Ngaji Pasanan: Merawat Tradisi Menuai Berkah Ilahi

Oleh: Redaktur walisongo.co

Ngaji-posonan-abahe Ngaji Pasanan: Merawat Tradisi Menuai Berkah Ilahi
Abah Imam Taufiq Mengisi Ngaji Pasanan

Walisongo.co – Membincang tradisi pesantren, berarti mencermati fenomena yang lahir dari sebuah kemantapan hati para santri. Salah satu tradisi yang hingga kini masih dirawat dengan apik oleh pesantren adalah “ngaji pasanan”.

Terkait istilah, ada beberapa penyebutan yang muncul. Seperti pasaran, kilatan, atau masyarakat urban (perkotaan) menyebutnya dengan pesantren kilat. Semua memiliki makna yang sama, yaitu sebuah tradisi mengaji yang dilakukan pesantren -pada perkembangannya diikuti lembaga pendidikan lain- yang digelar khusus edisi Ramadan.

Tidak ada perbedaan mendasar antara ngaji pasanan dengan ngaji yang biasa dilakukan di sebelas bulan lain. Hanya saja, kata pasanan yang terambil dari pasa (Jawa) yang berarti puasa, merupakan pengajian berbagai kitab turas dari awal hingga khatam pada bulan Ramadan.

Bidang keilmuan yang dibahas pun beragam, mulai dari tauhid, tafsir, hadis, fikih, akhlak tasawuf dan sebagainya. Sementara jenis kitabnya dari level ringkasan, syarah, hasyiyah ataupun induk.

Metode pengkajian dalam pasanan menggunakan sistem bandongan atau wetonan. Metode ini yang berperan aktif adalah kiai atau ustaz dengan membaca kitab beserta maknanya.

Di daerah Jawa biasanya menggunakan makna pegon yang disebut dengan istilah maknani atau ngasahi. Sementara santri, pada metode bandongan hanya mendengarkan dan menulis maknanya di bawah barisan kitab.

Zamaksyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, menyebutkan beberapa metode transmisi keilmuan di Pesantren. Seperti bandongan, sorogan (santri membaca kitab di depan kiai atau ustaz untuk disimak kebenarannya), halaqah (diskusi, musyawarah), dan metode hafalan.

Merawat Tradisi dan Literasi Keislaman

Tradisi mengaji edisi Ramadan sebenarnya telah ada sejak zaman Nabi Muhammad. Namun pada masa nabi, yang dibaca adalah al-Qur’an. Hal ini sebagaimana riwayat dari Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi bersama Malaikat Jibril ndarusan (tadarus; membaca al-Qur’an dengan disimak) pada setiap malam di bulan Ramadan.

Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami, yang kemudian dikutip Syaikh Abdullah bin Sirajuddin al-Husaini dalam kitabnya aṣ-Ṣiyâm , Imam asy-Syafi’i mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali selama Ramadhan, masing-masing satu khataman pada malam dan siang hari. Ini dilakukan di luar salat.

Ulama Nusantara yang membangun pondok, termasuk kiai kampung di surau-surau, kemudian menambahkan tradisi akademik lain, berupa kajian kitab kuning. Sehingga, selain tradisi tadarus al-Qur’an, pembacaan kitab kuning juga di-khatamkansecara khusus di bulan penuh berkah tersebut.

Beberapa waktu yang dipilih untuk pasanan biasanya bakda subuh, bakda zuhur, bakda asar sampai waktu buka puasa, dan bakda salat tarawih. Sebagian pesantren ada yang melangsungkannya di tengah malam, boleh jadi untuk lebih mendapatkan kemuliaan “menghidupkan malam di bulan puasa”.

Melalui ngaji pasanan, pondok pesantren secara langsung menjadi pionir menjaga cakrawala para ulama yang aktif menulis. Meskipun fenomena kemajuan zaman semakin deras, dunia teknologi yang tidak berhenti melaju, justru dimanfaatkan secara baik oleh kalangan pesantren.

Mereka yang memiliki sarana dan akses internet yang baik, akan menayangkan ngaji pasanan­-nya melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Youtube.

Sisi keunikan ngaji pasanan yang lain berupa pengembaraan para santri menuju pesantren lain, yang dianggapnya lebih otoritatif dalam keilmuan sang kiai dan pilihan kitab yang menarik.

Tidak sedikit beberapa pondok juga membuka diri bagi masyarakat umum untuk mengikuti agenda tahunan tersebut. Satu narasi besar dari rihlah ilmiah (perjalanan menuntut ilmu) para santri adalah konsep ngalap berkah (mengambil keberkahan).

Tabarukkan: Sebuah Kemantapan Hati

Ngaji pasanan yang telah mengakar di pondok pesantren, tidak sekedar pemindahan keilmuan (transfer of knowledge). Lebih dari itu, ada satu keyakinan yang mantap di hati para santri ketika bergegas berangkat mengaji. Duduk menyimak sang kiai ini masih level lahiriah (eksoterik).

Landasan yang lebih ‘menjiwai’ adalahdimensi esoterik (praktik personal, batiniah, sakral). Dimensi yang kedua ini tentang mencari keberkahan melalui sesuatu yang dimuliakan. Selanjutnya dikenal dengan istilah tabarukkan atau ngalap berkah.

Konsep ngalap berkah seolah menjadi identitas pondok pesantren. Ketika mendengar pesantren maka tidak lepas dari konsep ngalap berkah. Sebaliknya, ketika disebut istilah ngalap berkah berarti sedang membincang pesantren.

Konsep ini sebenarnya lahir dari ajaran tawassul (wasilah) yang disinggung dalam al-Qur’an, wabtaghû ilaihi al-wasîlah (QS. al-Maidah: 35). “Carilah wasilah (perantara) sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya”.

Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Makki, konsep tabarruk masuk dalam kategori tawassul, di mana aktivitas ini dilakukan untuk mencapai kepada Allah melalui media yang diberkahi, seperti jejak-jejak (peninggalan), benda, tempat, atau manusia seperti para nabi, wali, ulama dan kiai.

Tradisi ngaji pasanan melingkupi berbagai elemen yang diyakini sakral. Mulai dari kiai sebagai pemilik otoritas keilmuan, tempat yang dimuliakan, waktu yang mulia, hingga kitab kuning yang dikaji.

Melihat tradisi ini dalam perspektif Sayyid Alawi, disebutkan dalam kitab yang sama, keberkahan yang melekat pada sesuatu seperti manusia, tempat, benda, dan sebagainya, datang karena Allah yang memberi keberkahan, sebab kemuliaannya media tersebut.

Perlu diingat, bukan berarti media-media yang dijadikan wasilah mampu memberikan maslahat atau menolak mafsadat.

Akhirnya, tradisi ngaji pasanan yang masih langgeng, masih lestari di pondok pesantren memiliki tiga nilai kearifan yang wajib dipertahankan. Ketiganya yakni merawat tradisi salafussalih, menjaga budaya literasi keislaman, dan keseimbangan dimensi lahir dengan batin sebagai upaya mendapat keberkahan dari Allah.

Sekalipun pergeseran sarana dakwah dan perkembangan zaman, tiga nilai tersebut tetap penting baik secara eksistensi pesantren maupun esensi mencari ilmu pengetahuan yang sehat.Wallahu A’lam

Share this content:

Post Comment